Kearifan Lokal_Islam

KATA PENGANTAR

 

Salam dan shalawat semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Agung Muhammad SAW, satu-satunya manusia yang dijamin oleh Allah SWT terbebas dari segala dosa (ma’shum). Beliau dengan sepenuh jiwa dan raga mengemban amanah yang Allah SWT letakkan di pundak beliau. Bersama para sahabat setia, beliau tidak kenal lelah untuk menyampaikan risalah Islam tanpa memperdulikan beratnya tantangan yang beliau hadapi. Beliau menjual hidupnya untuk mendapatkan cinta-Nya yang lebih luas dari tujuh samudera dunia.

Kami mengangkat tema “Mengkritisi Kearifan Lokal”, agar para pembaca bisa mengetahui sejauh mana tradisi budaya di Indonesia sehubungan dengan agama Islam.

Harapan dari kehadiran makalah semoga dapat menambah pengetahuan kita terhadap kearifan lokal di Indonesia .Betapapun disadari masih banyak kekurangan disana sini, diharapkan pembaca berkenan memberikan kritik dan komentar untuk perbaikan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat.

Surabaya, 27 September 2011

Kelompok III

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Demi kejayaan suatu bangsa dan untuk dapat hidup mulia dan terhormat, ada beberapa patokan. Adapun patokan utamanya adalah agar bangsa itu berjalan di atas idiologi yang benar dalam mencapai setiap tujuannya; dalam melaksanakan pembangunan, pembaharuan dan perbaikan harus tertanam dalam hati rakyat. Yang dimaksud idiologi adalah kemestian bagi umat manusia, harus hidup dalam agama, kemasyrakatan dan politik, karena idiologi pada dasarnya adalah suatu kebutuhan spiritual yang mesti dipenuhi. Ia akan menjadi suatu kekuatan pendorong yang tidak mungkin terhalangi selama idiologi itu benar dan bersih.

Pada masa kini kearifan local menjadi kecenderungan umum masyarakat Indonesia yang telah menerima otonomi daerah sebagai pilihan politik terbaik. Membangkitkan nilai-nilai daerah untuk kepentingan pembangunan menjadi sangat bermakna bagi perjuangan daerah untuk mencapai prestasi terbaik. Selama ini, kearifan local tiarap bersama kepentingan pembangunan yang bersifat sentralistik. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk menggali lebih banyak kearifan-kearifan local sebagai alat atau cara mendorong pembangunan daerah sesuai daya dukung daerah dalam menyelesaikan masalah-masalah daerahnya secara mertabat.

Namun demikian, tidak sedikit kalangan yang mempertanyakan relevansi kearifan local di tengah-tengah perjuangan umat manusia menatap globalisasi. Apakah kearifan local sebagai system pengetahuan manusia itu logis atau sekedar mitos. Apakah kearifan local itu benar-benar berpijak pada realitas empiris atau sekedar spekulasi orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu. Tulisan ini mencoba menjawab keraguan di atas dengan pendekatan yang relevan.

  1. Rumusan Masalah

Beberapa topik yang menjadi sentral permasalahan dalam makalah ini yang akan dibahas adalah:

  1. Apakah yang dimaksud kearifan lokal?
  2. Bagaimana kearifan lokal di Indonesia?
  3. Bagaimana hubungan kearifan lokal dengan agama Islam?
  1. Tujuan

Setiap kegiatan yang dilakukan secara sistematis pasti mempunyai tujuan yang diharapkan, begitu pula makalah ini. Tujuan pembahasan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui pengertian kearifan lokal.
  2. Mengetahui contoh-contoh kearifan lokal yang ada di Indonesia.
  3. Mengetahui pandangan Islam terhadap kearifan lokal.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kearifan Lokal

Dalam pengertian kamus, kearifan lokal (local wisdom) terdiri dari dua kata : kearifan (wisdom) dan lokal (local). Lokal berarti setempat sedangkan kearifan sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka lokal wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius. Lokal genius ini merupakan istilah yang mula pertama dikenalkan oleh Quanitch Wales. Lokal genius adalah juga cultural identity , identitas kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri (Ayatrohaedi, 1986:18-19).

  1. Kearifan Lokal di berbagai daerah Indonesia

Elly Burhainy Faizal dalam SP Daily tanggal 31 Oktober 2003 dalam http://www.papuaindependen.com mencontohkan beberapa kekayaan budaya,kearifan lokal di Nusantara yang terkait dengan pemanfaatn alam yang pantas digali lebih lanjut makna dan fungsinya serta kondisinya sekarang dan yang akan datang. Kearifan lokal terdapat di beberapa daerah:

  1. Papua, terdapat kepercayaan tea aro neweak lako (alam adalah aku). Gunung Erstberg dan Grasberg dipercaya sebagai kepala mama, tanah dianggap sebagai bagian dari hidup manusia. Dengan demikian maka pemanfaatan sumber daya alam secara hati-hati.
  2. Searawai, Bengkulu, terdapat keyakinan: celako kumali. Kelestarian lingkungan terwujud dari kuatnya keyakinan ini yaitu tata nilai tabu dalam berladang dan tradisi tanam tanjak.
  3. Dayak Kenyah. Kalimantan Timur, terdapat tradisi tana’ulen. Kawasan hutan dikuasai dan menjadi milik masyarakat adat. Pengelolaan tanah diatur dan dilindungi oleh aturan adat.
  4. Masyarakat Undau Mau, Klimantan Barat. Masyarakat ini mengembangkan kearifan lingkungan dalam pola penataan ruang pemukiman, dengan mengklasifikasi hutan dan memanfaatkannya. Perladangan dilakukan dengan rotasi dengan menetapkan masa bera, dan mereka mengenal tabu sehingga penggunaan teknologi dibatasi pada teknologi pertanian sederhana dan ramah lingkungan.
  5. Masyarakat Kesepuhan Pancer Pengawinan. Kampung Dukuh Jawa Barat. Mereka mengenal upacara tradisional, mitos, tabu, sehingga pemanfaatan hutan hati-hati. Tidak diperbolehkan eksploitasi kecuali atas ijin sesepuh adat.
  6. Bali dan Lombok, masyarakat mempunyai awig-awig.

Kearifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan.

  1. Pandangan Islam terhadap Kearifan Lokal

Aqidah yang murni adalah landasan pokok bagi tegaknya masyarakat Islam. Sedangkan tauhid merupakan inti sari aqidah itu, ia adalah keseluruhan jiwa Islam. Penjagaan atas aqidah dan tauhid yang bersih ini merupakan kewajiban yang pertama kali ditekankan dalam syariah dan bimbingan-bimbingan Islam. Perang terhadap berbagai keyakinan jahiliyah yang dikembangkan oleh paham keberhalaan yang sesat merupakan suatu keniscayaan, demi menyucikan masyarakat muslim dari debu-debu syirik dan sisa-sisa kesesatan.

Keyakinan pertama yang ditanamkan Islam ke dalam jiwa para pemeluknya adalah bahwa jagad raya yang luas ini, yang manusia hidup di atasnya dan di bawah langitnya, tidak berjalan secara sporadis dan tanpa bimbingan. Ia tidak beredar dengan kendali salah seorang mahluk, karena hawa nafsu mereka bersama kesesatannya bersifat cenderung konflik.

Kaum muslimin telah belajar dari Kitab Tuhannya dan Sunah Nabinya, bagaimana harus menghormati hukum alam ini, mencari sebab akibat yang Allah ikatkan atasnya, sekaligus menolak berbagai unsur sebab akibat mistis yang diyakini, yang sering disitir oleh para juru kunci tempat-tempat keramat, para pendusta, dan para penjual agama.

Karena itu, barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara yang ghaib, niscaya ia berdusta kepada Allah, kepada realitas, dan kepada umat manusia. Beberapa orang utusan datang menemui Nabi SAW. Mereka meyakini bahwa Nabi SAW, termasuk orang-orang yang dapat mengetahui perkara ghaib. Kemudian mereka menyembunyikan sesuatu di tangan dan berkata kepada Nabi SAW, ”Tahukah tuan,apa ini?”Nabi menjawab dengan terus terang, ”Saya bukan seorang dukun, dan sesungguhnya dukun, perdukunan, dan para tukang ramal tempatnya di neraka.”

Kearifan sosial tentu saja harus digali dalam maknanya yang paling substansial dari tradisi lokal (local tradition) dan kemudian secara selektif ditarik ke dalam nilai-nilai keadaban. Dengan kata lain, tidak semua tradisi lokal mengandung nilai keadaban, dan karena itu tidak semua tradisi lokal menjadi sumber bagi kearifan lokal. Bagi kita, tradisi lokal harus terseleksi untuk ditransformasikan ke dalam kearifan lokal dan harus paralel dengan nilai-nilai ajaran Islam yang telah menjadi worldview (pandangan dunia) bagi setiap Muslim.

Dalam masa ini ilmu pengetahuan cepat berkembang yang kemudian terjadi sekularisasi dalam hampir seluruh kehidupan manusia. Agama dan tradisi dipandang sebagai sesuatu yang obsolete yang menghambat kemajuan. Jika modernitas semacam itu dipandang sebagai tesis (sebelumnya berupa antitesis), maka pada masa berikutnya muncul antisesis baru yang mengkritik modernitas sebagai sumber malapetaka. Seorang intelektual Muslim, Seyyed Hosein Nasser, menulis sebuah buku berjudul The Plight of Modern Men, yang menggambarkan kehidupan manusia modern yang menderita akibat kegersangan spiritual dan kerusakan lingkungan. Antitesis itu disebut orang sebagai post-modernity atau post-traditionality, yang selain mengkritik modernitas, juga memberikan kembali apresiasi terhadap agama dan tradisi. Pada masa terakhir inilah wacana tentang pluralisme, multikultutalisme dan kearifan lokal berkembang, yang pada dasarnya ingin menyatakan bahwa agama dan tradisi yang pernah dipersalahkan sebagai penghambat kemajuan sekarang dipandang sebagai modal budaya yang diperlukan bagi perbaikan kehidupan manusia.

Di samping ancaman modernitas, tradisi dan nilai-nilai lokal juga mendapatkan ancaman dari puritanisme agama. Kecenderungan puritan dalam Islam, misalnya, telah menggusur tradisi-tradisi yang dipandang berbau bid’ah, takhayul, khurafat dan syirik karena merusak akidah Islam yang murni. Dalam prakteknya, gerakan puritan ini telah melancarkan serangan tanpa pandang bulu terhadap tradisi yang diyakini bertentangan dengan Islami murni, seperti ziyarah kubur, sedekah bumi, sedekah laut, tahlilan dan slametan karena semuanya itu berbau sinkretik dan tidak bersumber dari ajaran Islam yang otentik. Tradisi secama itu dipandang oleh Puritanisme sebagai bentuk sikretisme, campuran ajaran-ajaran yang berasal dari Hindu, Budha dan paganisme. Cara berfikir puritan semacam itu pada masa berikutnya dikritik karena menyebabkan kegersangan spiritual dan hilangnya kearifan lokal.

Menyadari pentingnya kearifan lokal. Maka tugas kita sekarang ialah menemukan kearifan lokal dan memfungsikannya untuk mengembangkan kehidupan masyarakat yang berkeadaban. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kehidupan masyarakat semacam itu, dalam bahasa rakyat Indonesia, adalah kehidupan yang sejahtera lahir dan batin dan berada bi bawah naungan keampunan Allah (wa rabb ghafur); juga masyarakat yang diberkahi oleh Allah (barakat min al-sama’ wa al-ardl); masyarakat yang aman damai (aminan muthma’innan). Masyarakat seperti itu tidak akan lahir secara tiba-tiba, tetapi dari proses yang melibatkan usaha manusia, yang salah satunya ialah pertimbangan terhadap pentingnya kearifan lokal.

BAB III

KESIMPULAN

Lokal wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Kearifan lokal merupakan suatu gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terus-menerus dalam kesadaran masyarakat, berfungsi dalam mengatur kehidupan masyarakat dari yang sifatnya berkaitan dengan kehidupan yang sakral sampai yang profan.

Penjagaan atas aqidah dan tauhid yang bersih ini merupakan kewajiban yang pertama kali ditekankan dalam syariah dan bimbingan-bimbingan Islam. Kaum muslimin telah belajar dari Kitab Tuhannya dan Sunah Nabinya, bagaimana harus menghormati hukum alam ini, mencari sebab akibat yang Allah ikatkan atasnya, sekaligus menolak berbagai unsur sebab akibat mistis yang diyakini.Karena itu, barangsiapa mengaku bahwa dirinya mengetahui perkara yang ghaib, niscaya ia berdusta kepada Allah, kepada realitas, dan kepada umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Yusuf, Muhammad. 1980. Bahaya Pendangkalan Akidah. Jakarta: Al Hidayah.

Qardhawi, Yusuf. 2003. Halal Haram dalam Islam. Surakarta: Intermedia.

Http://www.UnivMuhammadiyahMalang.com/kearifan lokal mendinamisasi kehidupan  masyarakat yang berkeadaban. Syafiq A. Mughni. Diakses pada tanggal 25 Desember 2011.

Http://www.karodalnet.blogspot.com/pengertian kearifan lokal.Diakses pada tanggal 25 Desember 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s